Pekanbaru (BM) – Dibandingkan dengan China, persentase orang yang lulus doktoral atau S3 sangat jauh tertinggalnya. Hingga saat ini, jumlah Doktor di China telah mencapai 400.000.
Sedangkan, Indonesia data Kementerian Dalam Negeri tahun 2024, Indonesia memiliki sekitar 69.209 lulusan program doktor, dengan rasio 143 doktor per satu juta penduduk. Dari sekitar 303.000 dosen di Indonesia pada awal 2025, hanya sekitar 25 persen yang bergelar doktor. Provinsi Jawa Barat tercatat sebagai daerah dengan jumlah lulusan S3 terbanyak.
Bahkan, universitas-universitas di China masuk dalam 10 besar perguruan tinggi terbaik dunia. Sementara itu, universitas Indonesia masih berada di kisaran 100 besar dunia, seperti ITB dan UI.
”Keterbatasan jumlah doktor ini, memberikan ukuran pertumbuhan pendidikan tinggi ” kata mantan Rektor Universitas Andalas, Prof Ir Musliar Kasim.
Peningkatan lulusan perguruan tinggi juga dapat memberikan kemajuan kepada Indonesia, melalui Sumber Daya Manusia (SDM) nya.
Pria yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Baiturrahman ini mengungkapkan, tahun 2012 dalam rapat Bapenas kekurangan lulusan Doktoral atau S3 dia sempat mempertanyakan, berapa jumlah Doktor yang ada pada saat ini. Saat iti terungkap, jumlah Lulusan S3 berjumlah sekitar 26 ribu. Angka yang sangat kecil sekali, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asean.
Dalam pertemuan di Bapenas itu, disepakati perlunya proyeksi jangka panjang hingga tahun 2045. Indonesia ditargetkan memiliki lebih dari 100.000 lulusan doktor. Target ini menuntut percepatan serius agar kualitas pendidikan tinggi Indonesia mampu sejajar dengan negara maju.
Meski demikian, Prof. Musliar Kasim menegaskan bahwa peluang pendidikan tinggi di Indonesia semakin terbuka.
Di hadapan siswa SMA dan SLTA se-Provinsi Riau, di kegiata. Riau Edutech Campus Summit 2026, dirinya mengingatkan agar tidak berkecil hati jika tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Saat ini, banyak Perguruan Tinggi Swasta yang berkembang pesat dan memiliki kualitas pendidikan yang kompetitif. Selain itu, berbagai program beasiswa dari pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swasta terus diperluas.
“Yang terpenting, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk berhenti sekolah. Dengan kemauan dan tekad yang kuat, akses pendidikan tinggi kini semakin inklusif,” pungkasnya.***
