Siak  

Sambutan Hangat Berbalut Adat dan Senyum, Bupati Siak Dampingi Utusan Khusus Presiden Zita Anjani di Siak

Bupati Siak Afni Z, saat mendampingi utusan khusus Presiden, Zita Anjani, Sabtu (7/2/2026), di Siak.

Siak (BM) — Cuaca di negeri istana cerah. Ada suasana teduh yang sulit dijelaskan, seolah waktu sengaja diperlambat untuk memberi ruang bagi sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar kunjungan pejabat negara.

Jarum jam di dinding rumah bupati Siak tampak mendekati pukul 11.00 WIB. Ketika itu Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli berdiri menanti di anak tangga rumah rakyatnya sendiri. Ia tenang, nyaris khidmat, seperti seseorang yang sadar bahwa hari itu bukan hanya soal jadwal, melainkan soal sikap.

Rombongan Utusan Khusus Presiden bidang Pariwisata, Zita Anjani, akhirnya tiba. Sambutan berlangsung hangat, berbalut adat dan senyum. Zita hadir membawa mandat Presiden Prabowo Subianto, sekaligus membawa nama besar PAN, dia adalah putri Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan, yang juga tak terpisahkan dari sejarah politik di Siak ketika Pilkada serentak.

Afni terpilih sebagai Bupati Siak, setelah menumbangkan incumbent yang juga Ketua DPW PAN saat itu, Alfedri. Setelah pertarungan yang dibalut drama dua jilid MK, pertemuan itu akhirnya terjadi.

Ketika Zita sampai, Afni menyambut hangat. Mereka berdua sudah melangkah ke atas anak tangga rumah dinas. Namun sebuah bisikan singkat dari ajudan sampai ke telinga Afni. Ternyata ada Alfedri ikut mendampingi utusan khusus Presiden, Zita Anjani.

Seketika pemimpin perempuan pertama Siak itu berbalik arah, menuruni anak tangga rumah dinas. Meninggalkan protokoler bahkan tamu utama, demi menyalami pendahulunya.

Afni menyalami Alfedri dengan penuh takzim. Kepalanya tertunduk memberi hormat. Tidak ada kata besar, tidak ada gestur berlebihan. Hanya takzim yang jujur, hormat seorang pemimpin kepada pendahulunya, hormat yang lahir dari kesadaran akan marwah dan adab.

Afni lalu mengajak Alfedri masuk kembali ke rumah dinas. Ia tampak berulang-ulang mengarahkan protokol agar Alfedri tetap bersamanya, duduk semeja, sejajar. Dalam perbincangan bersama Zita, suasana mencair.
Politik seakan ditinggalkan di luar pintu, digantikan percakapan hangat dan rasa saling menjaga.

“Semua wajib mendukung program Ibu Bupati Siak,” kata Zita. Memberi pesan pada beberapa anggota DPRD Siak dan DPRD Provinsi dari Fraksi PAN. Gerbong besar yang dulunya berada di seberang, kini saling memberi dukungan.

Agenda utusan khusus presiden berlanjut. Rombongan meninjau Jembatan Siak, melangkah ke Balai Kerapatan, lalu berziarah ke makam Sultan. Doa dipanjatkan. Afni berjalan di antara mereka dengan sikap yang sama, tenang, merangkul, dan seolah tidak ada masa lalu tentang kerasnya pertarungan politik.

Di atas sungai, sampan-sampan bergerak perlahan. Afni tampak mencari Alfedri, memastikan ia satu perahu dengannya dan Zita. Sebuah keputusan sederhana, namun sarat makna tentang kebersamaan dalam satu arah tujuan. Mereka berperahu bersama, makan beranyut.

Di Tangsi Belanda, sejarah disentuh kembali. Zita berdialog dengan pelaku UMKM dan anak milenial, mendengar cerita dan harapan. Afni berdiri di tengah, menjembatani yang lama dan yang muda, yang tradisi dan yang inovasi.

Perjalanan berlanjut ke Istana Asserayah Hasyimiah. Suasana makin meriah saat Afni mendadak ngajak Zita bermain layang-layang depan Istana. Tawa ringan pecah, menjadi jeda manusiawi di tengah rangkaian kunjungan kenegaraan. Ada Alfedri juga di sana, tertawa melihat kelaku Bupati penerusnya dan anak Ketua Umum partainya.

Pada beberapa sesi selanjutnya, protokoler terlihat sibuk. Atas permintaan Afni, Alfedri selalu dicari. Ia harus ada dalam bingkai itu. Afni paham, foto adalah ingatan publik, dan ia memilih mengabadikan pesan persatuan.

Tidak sekali itu terjadi. Ketika Alfedri luput dari pandangan, Afni kembali meminta agar ia dihadirkan. Sikap itu bukan kebetulan, melainkan cermin ketulusan yang konsisten sejak awal hari.

Keliling kota menaiki odong-odong menjadi perjalanan penuh kenangan utusan khusus presiden di Siak. Zita menyebutkan, Siak laksana negeri kayangan, bersih, rapi, dan menenangkan. Ia menegaskan, urusan politik telah selesai, kini saatnya semua pihak mendukung kepemimpinan Afni membangun Siak. Selain itu anak Ketua Umum PAN itu meminta Fraksi PAN mendukung program Bupati Siak.

Menjelang senja, rombongan kembali ke Pekanbaru. Matahari perlahan turun, meninggalkan Negeri Istana dalam cahaya keemasan. Yang tertinggal bukan hanya jejak kunjungan, melainkan satu pelajaran di kelopak mata, ketulusan mampu meluruhkan sekat, dan takzim adalah bahasa kepemimpinan paling bijak.***

Exit mobile version