Adopsi energi bersih terhambat oleh faktor perilaku dan persepsi konsumen, bukan oleh teknologi, sehingga strategi pasar harus menekankan perubahan persepsi, norma sosial, dan kepercayaan agar niat beralih benar-benar menjadi tindakan.
Transisi menuju energi bersih sering dipresentasikan sebagai tonggak sustainable development, namun kenyataannya, keputusan konsumen untuk beralih masih jauh dari rasional ideal. Kajian ekonomi perilaku dan manajemen konsumen telah mengungkap adanya behavioral gap yang sistematis antara niat dan tindakan nyata. Konsumen mungkin mendukung energi bersih secara normatif, tetapi dukungan tersebut belum tentu diterjemahkan menjadi keputusan adopsi yang konkret.
Penelitian terbaru yang berkaitan dengan energi terbarukan menunjukkan bahwa hambatan adopsi energi bersih bersifat multidimensional, tidak hanya teknis atau finansial, tetapi juga psikologis dan sosial. Studi lainnya juga menekankan bahwa keyakinan terhadap manfaat, kepedulian terhadap lingkungan, dan norma sosial secara signifikan memengaruhi niat konsumen untuk mengadopsi solusi energi bersih.
Meski demikian, persepsi biaya awal dan risiko tetap menjadi penghambat utama, meski efeknya berbeda-beda antar konteks. Meta analisis global memperkuat temuan ini, menyoroti peran sikap pribadi, perceived behavioural control, dan norma sosial sebagai pendorong utama adopsi, sementara biaya dan risiko berfungsi sebagai rem psikologis.
Inti persoalan terletak pada value action gap, dimana konsumen mengakui nilai energi bersih, tetapi perilaku nyata mereka masih dipengaruhi oleh ketidakpastian manfaat, persepsi risiko, dan fokus pada biaya jangka pendek.
Bahkan di level rumah tangga, bukti empiris menunjukkan bahwa pengaruh sosial dan network effects yaitu ddngan melihat tetangga atau komunitas berhasil menggunakan energi bersih lebih efektif mendorong adopsi dibanding kampanye informasi atau promosi yang dilakukan
Dalam konteks ini, strategi pasar energi bersih harus diarahkan pada transformasi persepsi, bukan sekadar penetrasi pasar berbasis teknologi. Keunggulan teknis atau klaim efisiensi energi tidak otomatis menjadi pilihan konsumen; strategi pasar perlu membangun kepercayaan, menyederhanakan pengalaman adopsi, dan menegaskan manfaat nyata yang relevan bagi kehidupan sehari-hari.
Insentif finansial, seperti subsidi, diskon, dan skema pembiayaan, tetap relevan tetapi berfungsi sebagai katalis, bukan penentu utama. Tanpa rasa percaya diri bahwa teknologi mudah digunakan dan manfaatnya stabil, insentif cenderung hanya mendorong minat sementara. Oleh karena itu, kebijakan harga harus dipadukan dengan komunikasi strategis yang memperkuat perceived behavioural control.
Norma sosial dan pemasaran berbasis komunitas menjadi pengungkit paling kuat dalam mempercepat adopsi. Konsumen sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, di mana contoh nyata dari tetangga, komunitas, atau pelaku usaha lain lebih persuasif daripada promosi konvensional.
Ketika energi bersih dipersepsikan sebagai pilihan yang lazim dan diharapkan secara sosial, hambatan psikologis menurun secara signifikan, dan adopsi terjadi lebih cepat.
Penjelasan terkait hal ini menegaskan bahwa transisi energi adalah persoalan pasar dan perilaku, bukan sekadar teknologi. Energi bersih telah siap secara teknis, tetapi tantangan strategis berikutnya adalah menyelaraskan strategi pasar, desain insentif, dan kekuatan norma sosial agar persepsi konsumen benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Dengan pendekatan yang holistik, nilai keberlanjutan energi bersih dapat diwujudkan secara riil di pasar global.***
Penulis |Charly Simanullang
Mahasiswa Program Doktor Fakultas Ekonomi dan Management Bisnis
Universitas Riau.
