Siak (BM) – Menjelang azan Magrib berkumandang, jalanan di Dayun, Kabupaten Siak, tampak seperti biasa. Tak ada iring-iringan mobil dinas, tak terdengar sirene pengawal. Hanya deru sepeda motor yang melaju pelan, dikendarai langsung oleh Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, membonceng ajudannya.
Safari Ramadan perdana itu menjadi pemandangan yang lain daripada yang lain.
Di tengah tradisi safari Ramadan yang identik dengan rombongan pejabat dan pengawalan ketat, Afni memilih cara sederhana, mendatangi satu per satu rumah warga yang telah menjadi target penerima bantuan di wilayah Kecamatan Dayun.
Bagi Afni, safari Ramadan bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadikannya ruang silaturahmi yang lebih personal. Dari pintu ke pintu, ia menyapa warga, duduk berbincang, dan mendengar langsung keluhan maupun harapan masyarakat.
Pendekatan ini memberi pelajaran penting, kepemimpinan bukan hanya tentang kebijakan di balik meja, tetapi juga kehadiran di tengah rakyat.
“Kalau kita datang langsung, kita bisa tahu kondisi sebenarnya. Bukan hanya laporan di atas kertas,” ujar Afni di sela kunjungannya.
Dalam kunjungan tersebut, Afni menyerahkan amplop bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Siak kepada warga yang membutuhkan. Namun, penyerahan bantuan itu bukan sekadar formalitas. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat budaya berinfak dan bersedekah melalui Baznas.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang berinfak, semakin besar pula manfaat yang bisa dirasakan sesama warga Siak.
Mantan wartawan itu pun meminta doa agar niat dan langkahnya dalam memimpin daerah diberi kemudahan dan keberkahan. Di sini, Ramadan menjadi momentum pendidikan sosial, tentang kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab bersama.
Selepas kunjungan rumah ke rumah, Afni melanjutkan safari dengan berbuka puasa bersama masyarakat di masjid setempat. Tanpa kemewahan. Tanpa protokol berlebihan. Menu sederhana tersaji apa adanya, menyatu dengan warga.
Perbedaan itu terasa jelas. Biasanya, safari Ramadan kepala daerah identik dengan rombongan panjang pejabat, mobil dinas berjejer, bahkan pengawalan khusus. Namun malam itu, sang bupati justru mengendarai sendiri sepeda motornya hingga pulang larut. Kesederhanaan itu menjadi pesan tersendiri, jabatan tak harus menciptakan jarak.
Apa yang dilakukan Afni memberi contoh bahwa safari Ramadan bisa menjadi ruang edukasi publik. Edukasi tentang pentingnya turun langsung ke lapangan, tentang memimpin dengan empati, dan tentang menghidupkan nilai-nilai kesederhanaan dalam birokrasi.
Di tengah masyarakat yang kerap menilai pemimpin dari kedekatannya, pendekatan ini menghadirkan wajah kepemimpinan yang lebih membumi.
Ramadan, akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga tentang menahan diri dari berlebihan, serta memperkuat rasa peduli terhadap sesama.
Dan di jalanan Dayun yang senyap menjelang malam itu, sebuah sepeda motor menjadi simbol bahwa pelayanan bisa dimulai dari cara yang paling sederhana.***
