Pekanbaru (BM) – Di balik pelantikan Direktur PT Bumi Siak Pusako (BSP) periode 2026–2031, tersimpan harapan yang jauh melampaui pergantian kepemimpinan sebuah perusahaan daerah. Tiga tokoh yang menjadi bagian penting dari sejarah Riau dan Siak, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Datuk Seri Marjohan Yusuf, mantan Gubernur Riau Syamsuar, dan mantan Bupati Siak Arwin AS, menitipkan pesan yang sama: BSP harus bangkit kembali sebagai penjaga marwah Melayu dan penopang masa depan daerah.
Bagi mereka, BSP bukan sekadar badan usaha milik daerah. Perusahaan ini adalah simbol keberanian putra daerah mengelola kekayaan alam di tanahnya sendiri, sebuah cita-cita yang diperjuangkan sejak awal berdirinya Kabupaten Siak.
Datuk Seri Marjohan Yusuf menyebutkan BSP sebagai kebanggaan masyarakat Riau. Di tengah posisi Riau sebagai salah satu daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia, keberadaan BSP menjadi bukti bahwa masyarakat Melayu memiliki kemampuan mengelola sektor strategis migas secara mandiri.
“Keberadaan PT Bumi Siak Pusako bukan semata-mata bisnis, tetapi menjadi cermin dan kebanggaan karena mengangkat marwah Melayu Riau,” ujarnya usai menghadiri pelantikan Direktur BSP, 7 Juli 2026.
Menurut Datuk Seri Marjohan, kepemimpinan baru BSP harus mampu membawa perusahaan semakin maju, meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah, sekaligus membuktikan bahwa putra-putri Riau mampu mengelola industri migas secara profesional.
Harapan itu tidak berhenti pada aspek bisnis. Datuk Seri Marjohan menekankan pentingnya integritas, akuntabilitas, profesionalisme, dan tata kelola perusahaan yang baik agar BSP benar-benar menjadi kebanggaan masyarakat.
Apa yang diucapkan Datuk Seri Marjohan, segendang dan sepenari dengan Syamsuar, yang pernah memimpin Siak dan Riau. Baginya, BSP adalah marwah Riau yang harus dijaga melalui kepemimpinan yang tegas dan berani mengambil keputusan.
Ia mengingatkan Direktur BSP yang baru, Robi Junipa, agar tidak ragu melakukan pembenahan internal demi memperbaiki kinerja perusahaan.
“Kalau ada yang bekerja tidak betul, ya dicopot saja, diganti saja. Banyak yang mampu, baik dari luar maupun dari dalam BSP sendiri,” ungkap Syamsuar.
Menurut Syamsuar, BSP pernah menjadi harapan besar masyarakat ketika memperoleh wilayah kerja migas yang strategis. Karena itu, perusahaan ini harus kembali menjadi kekuatan ekonomi daerah sekaligus mendukung kedaulatan energi nasional.
Syamsuar bahkan melihat kemegahan prosesi pelantikan Robi Junipa sebagai isyarat harapan baru.
“Semoga ini menjadi pertanda kebangkitan BSP melalui kerja nyata yang mampu mengangkat kembali kemajuan perusahaan,” doanya.
Sementara itu, harapan yang paling menyentuh datang dari Arwin AS, tokoh yang ikut meletakkan pondasi awal BSP. Dalam kondisi kesehatan yang menurun, ia menerima kunjungan Bupati Siak Afni Zulkifli bersama Direktur BSP Robi Junipa untuk memberikan doa dan nasihat. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan pertemuan antara sejarah dan masa depan.
Arwin mengingatkan bahwa kondisi yang dihadapi Kabupaten Siak saat ini merupakan salah satu ujian terberat sejak daerah itu berdiri. Karena itu, BSP diharapkan kembali menjadi penopang pembangunan daerah melalui kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan Kabupaten Siak.
Arwin juga menyampaikan keyakinannya bahwa BSP masih memiliki peluang untuk bangkit.
“Beliau meyakini dengan doa, semangat kebersamaan, serta kemampuan putra-putri Siak dan Riau, BSP akan mencapai titik balik dan kembali menjadi perusahaan daerah yang kuat,” ujar Afni mengutip pesan Arwin.
Pesan terakhir Arwin sederhana, tetapi sarat makna: BSP harus dijaga dengan penuh tanggung jawab dan kehormatan.
Bagi Arwin, BSP bukan hanya perusahaan, melainkan bagian dari identitas masyarakat Siak dan Riau.
Dari Datuk Seri Marjohan, Syamsuar, hingga Arwin AS, terdapat satu benang merah yang menyatukan semua harapan itu, BSP harus menjadi bukti bahwa daerah mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri dengan profesional, bermartabat, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Kini, harapan itu berada di tangan nahkoda baru. Di tengah tantangan industri migas dan tekanan fiskal daerah, kebangkitan BSP bukan hanya soal laba perusahaan, melainkan tentang menjaga marwah Riau yang telah lama diperjuangkan. (Adv)
