Pekanbaru (BM) – Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si menegaskan PT Bumi Siak Pusako (BSP) memiliki peran strategis dalam mendukung kedaulatan energi nasional. Menurutnya, perusahaan daerah tersebut bukan sekadar badan usaha milik daerah (BUMD), melainkan representasi perjuangan Kabupaten Siak dalam mengelola sumber daya alam secara mandiri dan profesional.
Pernyataan itu disampaikan Afni saat menjadi narasumber pada Sarasehan Pasis Seskoau A-65 bertema Meneguhkan Nilai-Nilai Kejuangan dalam Mewujudkan Pertahanan Energi Guna Mewujudkan Pertahanan Negara yang Tangguh di Hotel Jatra Pekanbaru, Rabu (29/7/2026).
Dalam paparannya, Afni menjelaskan bahwa BSP menghadapi tantangan besar ketika mengambil alih pengelolaan wilayah kerja migas secara penuh. Perusahaan harus menangani berbagai persoalan teknis, mulai dari jaringan pipa yang telah menua, sumur-sumur tua, hingga keterbatasan infrastruktur produksi yang membutuhkan investasi dan teknologi tinggi.
Ia menyebutkan, salah satu pekerjaan terbesar adalah memulihkan jaringan pipa sepanjang sekitar 80 kilometer yang menghubungkan sumur-sumur di kawasan Sungai Apit hingga Minas. Infrastruktur tersebut merupakan peninggalan pengelolaan migas sejak era perusahaan asal Amerika Serikat dan kini memerlukan rehabilitasi agar kembali berfungsi optimal.
“Tantangan kami adalah menjaga sekitar 80 kilometer jaringan pipa dari sumur-sumur agar minyak bisa mengalir hingga ke Minas. Kami mewarisi pipa-pipa yang rusak dan sumur-sumur tua yang membutuhkan teknologi mahal,” ujar Afni.
Menurutnya, kondisi tersebut sempat memengaruhi kinerja BSP pada masa-masa awal pengelolaan. Meski demikian, dalam satu tahun terakhir perusahaan mulai menunjukkan perkembangan positif dan telah mampu memberikan dividen murni kepada Pemerintah Kabupaten Siak.
Afni mengatakan capaian tersebut belum menjadi titik akhir keberhasilan BSP. Pemerintah Kabupaten Siak masih fokus melakukan pemulihan infrastruktur agar distribusi minyak tidak lagi bergantung pada angkutan truk, tetapi kembali menggunakan jaringan pipa sehingga biaya operasional lebih efisien sekaligus meningkatkan aspek keamanan distribusi energi.
Ia juga menegaskan seluruh produksi minyak BSP saat ini dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui Pertamina. Kebijakan tersebut, kata dia, sejalan dengan upaya pemerintah pusat memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
Karena itu, Afni berharap BSP memperoleh dukungan investasi, teknologi, serta kolaborasi dari berbagai pihak agar kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah berusia tua.
Dalam kesempatan tersebut, Afni turut mengulas perjalanan panjang industri migas di Kabupaten Siak. Ia menyebut pengelolaan sumber daya minyak di daerah itu telah berlangsung sejak masa Kesultanan Siak, kemudian berlanjut pada era kolonial Belanda, dikelola perusahaan Caltex, hingga akhirnya pada 2022 BSP resmi menjadi operator penuh dengan sumber daya manusia yang mayoritas berasal dari Riau.
Afni menilai semangat perjuangan para pendahulu harus menjadi inspirasi dalam mengelola kekayaan alam secara bertanggung jawab. Menurutnya, jika dahulu Kesultanan Siak berjuang mempertahankan bangsa melalui pengorbanan harta, maka saat ini semangat tersebut diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya energi yang profesional demi memberikan manfaat bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Afni menambahkan, dividen BSP telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, termasuk mendukung pembangunan infrastruktur di Kabupaten Siak. Ia berharap BSP dapat kembali meningkatkan kinerja produksinya dan menjadi BUMD migas yang mampu memperkuat perekonomian daerah sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
“Menjaga BSP berarti menjaga sejarah, menjaga kedaulatan energi daerah, dan menjaga masa depan masyarakat Siak serta Indonesia,” ucap Afni. (azw)
