Keselamatan sebagai Fondasi Transisi Energi Bersih

Charly Simanullang, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Eknomi dan Manajemen Bisnis, Universitas Riau

Keberhasilan transisi energi bersih sangat ditentukan oleh kemampuan menempatkan keselamatan sebagai narasi utama, yang menjembatani kepentingan teknologi, bisnis, dan penerimaan sosial demi keberlanjutan usaha energi di masa depan.


Transisi energi bersih tidak hanya menghadapi tantangan teknologi dan pembiayaan, tetapi juga resistensi sosial yg menjadi salah satu faktor penting dalam perencanaan bisnis. Salah satu sumber utama penolakan masyarakat terhadap proyek energi bersih bukanlah penolakan terhadap keberlanjutan itu sendiri, melainkan rasa takut terhadap keselamatan lingkungan, dimana hal ini menjadi faktor psikologis yang secara nyata memengaruhi penerimaan publik. Dalam konteks ini, keselamatan merupakan variabel strategis yang menentukan keberhasilan transisi energi.

Dari perspektif manajemen risiko, penolakan masyarakat merupakan manifestasi dari ketidakseimbangan antara persepsi dan realitas risiko. Meskipun banyak teknologi energi bersih memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan energi konvensional, tetapi komunikasi yang kurang terkait dengan imformasi keselamatan yang kredibel dan transparan membuat risiko tersebut dipersepsikan lebih besar daripada kenyataannya. Ketika persepsi risiko meningkat, kepercayaan publik menurun, yang memengaruhi legitimasi sosial.Dalam konteks management bisnis, persepsi keselamatan publik menjadi salah satu variabel sosial dalam hal penerimaan yang memengaruhi keputusan.

Fenomena ini memiliki implikasi bisnis yang signifikan yaitu terjadinya penolakan masyarakat yang dapat memicu penundaan, peningkatan biaya, bahkan pembatalan investasi, sehingga keselamatan menjadi instrumen pengelolaan risiko non-teknis yang krusial. Proyek energi bersih harus dibarengi dimensi keselamatan publik untuk mengurangi risiko kehilangan social license to operate, dengan kata lain dimensi keselamatan publik menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha.

Pendekatan K3 yang terintegrasi memberikan penawaran kerangka untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Keselamatan harus diposisikan sebagai narasi utama sejak tahap awal, bukan sekadar sebagai dokumen kepatuhan. Pelibatan fungsi K3 dalam desain sistem, analisis risiko, dan simulasi keadaan darurat, sebagai kekuatan dalam menyusun argumen keselamatan yang berbasis data dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pendekatan ini penting untuk membangun kepercayaan masyarakat, karena ketakutan publik umumnya muncul bukan dari teknologi itu sendiri, melainkan dari ketidakpastian dan kurangnya pemahaman.

Selain itu, transparansi keselamatan memiliki nilai ekonomi yang nyata, seperti komunikasi yg terbuka mengenai standar K3, prosedur pengamanan, serta mekanisme tanggap darurat untuk membantu mengurangi resistensi sosial dan mempercepat penerimaan. Dari sudut pandang bisnis, investasi pada sistem keselamatan dan komunikasi risiko dilihat dari faktor biaya jauh lebih kecil dibandingkan biaya akibat konflik sosial, penundaan proyek, atau litigasi.
Perlu juga ditelaah bahwa tidak semua ketakutan masyarakat bersifat irasional, seperti halnya teknologi energi bersih membawa risiko baru yang berbeda dari teknologi konvensional, dimana pengelolaan risiko tersebut menuntut kompetensi serta kesiapan institusional. Oleh karena itu, menempatkan keselamatan sebagai fondasi transisi energi bersih berarti memastikan bahwa standar K3 diuji dan dikomunikasikan baik secara internal dan eksternal dengan harapan dapat memperkuat kredibilitas di mata publik.

Dalam konteks Bulan K3, isu ini memperoleh relevansi strategis, dalam hal ini Keselamatan tidak hanya berfungsi untuk melindungi pekerja, tetapi juga menjadi jembatan kepercayaan antara perusahaan dan masyarakat. Ketika transisi energi bersih mengabaikan aspek keselamatan publik, akan berpotensi kehilangan legitimasi sosial, walaupun memiliki keunggulan secara teknologi.

Keberhasilan transisi energi bersih dinilai dari kemampuan untuk mengelola risiko secara komprehensif termasuk risiko persepsi dan kepercayaan publik, sehingga keselamatan sangat perlu ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun penerimaan sosial yang menjadi prasyarat utama keberlanjutan bisnis energi di masa depan.***

Penulis | Charly Simanullang
Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau

Exit mobile version