Dari Perut Bumi Pelalawan untuk Dapur MBG, PGN Dukung Asta Cita Presiden Prabowo

Area Head PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Pekanbaru Charly Simanullang (tengah), didampingi Teknisi PGN Pangkalan Kerinci Haikal (kanan), berdialog dengan Asisten Chef Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Beni Saputra di Dapur SPPG Pangkalan Kerinci Kota, Kabupaten Pelalawan, Riau, Rabu (7/10/2026). Charly meninjau fasilitas jaringan gas dan memastikan pasokan Gas Bumi PGN beroperasi optimal untuk mendukung kelancaran aktivitas dapur SPPG dalam penyediaan makanan bergizi. Foto: Azwar/bermutunews.com

Pangkalan Kerinci (BM) — Dari gas bumi yang bersumber dari perut bumi Pelalawan, api di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Sekolah, Gg. Attauhid 1, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, menyala. Dari api itu, makanan bergizi disiapkan untuk anak-anak Indonesia, khususnya para penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pangkalan Kerinci.

Desis api terdengar dari tujuh tungku yang menyala sejak pagi. Di atasnyalah, panci-panci berukuran besar digunakan untuk memasak makanan dalam jumlah banyak. Para pekerja dapur bergerak cepat menyiapkan hidangan yang harus selesai tepat waktu sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat MBG.

Di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang bekerja tanpa banyak terlihat, yaitu energi baik gas bumi.

Api yang menjaga suhu masakan tetap stabil di dapur SPPG Pangkalan Kerinci Kota berasal dari gas bumi yang dialirkan melalui jaringan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), bagian dari Subholding Gas Pertamina. Yang membuatnya semakin bermakna, gas tersebut bersumber dari perut bumi Pelalawan sendiri.

Ada sebuah perjalanan yang mungkin tidak terlihat ketika makanan bergizi sampai ke tangan anak-anak. Energi yang tersimpan di bawah bumi Pelalawan dialirkan melalui jaringan infrastruktur gas untuk menyalakan tungku, mengolah bahan makanan, hingga menjadi hidangan yang kemudian disajikan kepada penerima manfaat MBG.

Rantai tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki makna besar. Sumber daya domestik dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat di wilayahnya sendiri. Di titik inilah energi bertemu dengan pangan, dan pangan menjadi bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada energi dan pangan sebagai bagian penting dalam strategi transformasi bangsa. Pemerintah juga menempatkan pembangunan generasi unggul melalui Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu agenda prioritas.

Dalam arah kebijakan tersebut, energi dan pangan bukan dua isu yang berdiri sendiri. Keduanya menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bahkan, dalam kerangka Asta Cita, pemerintah menempatkan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru sebagai salah satu agenda pembangunan. Dapur MBG di Pangkalan Kerinci menjadi potret kecil bagaimana agenda besar tersebut diterjemahkan ke dalam aktivitas sehari-hari.

Swasembada energi bukan hanya tentang seberapa banyak energi diproduksi. Lebih dari itu, swasembada juga berbicara tentang bagaimana energi yang tersedia di dalam negeri dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan aktivitas produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di Pangkalan Kerinci, manfaat itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: api kompor yang menyala stabil.

“Sekarang tinggal cetek,” kata Asisten Chef SPPG Pangkalan Kerinci Kota, Beni Saputra.

Sebelum menggunakan gas bumi yang dialirkan melalui jaringan PGN, dapur SPPG Pangkalan Kerinci Kota menggunakan gas dalam tabung berukuran 50 kilogram dan 12 kilogram.

Bagi dapur yang bekerja dalam skala besar, kebutuhan energi merupakan bagian penting dari operasional. Ketersediaan tabung gas harus dipastikan agar kegiatan memasak tidak terganggu. Prosesnya dimulai dari pembelian, pengangkutan, hingga pemasangan regulator.

Ada pula kekhawatiran apakah pasokan akan mencukupi ketika aktivitas memasak sedang berlangsung.

Kini situasinya berbeda. SPPG Pangkalan Kerinci Kota telah menggunakan gas bumi yang dialirkan melalui jaringan pipa. Bagi Beni, perubahan tersebut terasa dalam aktivitas sehari-hari.

“Sekarang tinggal cetek,” katanya sederhana.

Dua kata itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagi pekerja dapur, “tinggal cetek” berarti tidak perlu lagi memikirkan kapan harus mengganti tabung, mencari pasokan gas, atau membuka dan memasang regulator. Api kompor tetap menyala dan kegiatan memasak makanan bergizi untuk anak-anak Indonesia dapat terus berjalan.

“Apinya stabil sesuai kebutuhan. Selama menggunakan gas bumi ini, alhamdulillah tidak ada kendala. Memasak juga tetap lancar,” ujar Beni.

Di balik kalimat sederhana itu terdapat satu hal yang sangat penting bagi dapur MBG, kepastian energi untuk menunjang kegiatan memasak dan memastikan makanan dapat disiapkan serta didistribusikan tepat waktu kepada para penerima manfaat.

Sebab, dapur SPPG tidak hanya memasak untuk hari itu. Mereka bekerja berdasarkan jadwal, jumlah penerima manfaat, standar kebersihan, komposisi menu, serta waktu distribusi yang harus dipenuhi.

Ketika energi dapat diandalkan, pekerja dapur dapat memusatkan perhatian pada hal yang lebih penting, yakni memastikan makanan dimasak dengan baik, higienis, dan siap didistribusikan.

Penggunaan gas bumi juga memberikan dampak terhadap biaya operasional. Sebelumnya, kebutuhan gas untuk memasak disebut mencapai sekitar Rp1,36 juta per hari. Setelah beralih menggunakan gas bumi PGN, pengelola menyebut biaya energi dapat ditekan hingga sekitar 50 persen.

Bagi dapur yang beroperasi setiap hari, efisiensi tersebut bukan sekadar angka. Penghematan memberikan ruang bagi pengelola untuk mengoptimalkan sumber daya pada kebutuhan operasional lainnya.

Namun, manfaat terbesar yang dirasakan bukan hanya soal biaya.

“Sekarang kami tidak perlu lagi membeli dan membawa tabung untuk mencari gas. Tidak perlu buka-pasang regulator. Waktu memasaknya juga sama cepatnya dengan menggunakan gas tabung,” kata Beni.

Efisiensi waktu, kemudahan operasional, kestabilan api, dan respons pelayanan akhirnya bertemu pada satu tujuan, memastikan dapur dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Pada posisi ini, energi baik gas bumi menjadi lebih dari sekadar komoditas. Gas bumi menjadi bagian dari ekosistem pelayanan publik yang mendukung kelancaran penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat.

Bagi PGN Area Pekanbaru, kehadiran di SPPG bukan sekadar tentang menyalurkan gas bumi. Lebih dari itu, kehadiran tersebut dimaknai sebagai hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pelanggan yang diwujudkan melalui pelayanan sepenuh hati.

Area Head PGN Pekanbaru Charly Simanullang mengatakan, pelayanan energi harus dibangun melalui keandalan, responsivitas, dan kemampuan memahami kebutuhan pelanggan.

“Bagi kami, melayani pelanggan bukan sekadar memenuhi kebutuhan energi, tetapi bagaimana memastikan pelanggan merasakan kehadiran PGN ketika membutuhkan dukungan. Kami ingin membangun hubungan yang saling memberikan nilai dan tumbuh bersama,” ujarnya.

Semangat tersebut menjadi bagian dari Service Excellence PGN bagi pelanggan melalui pelayanan sepenuh hati.

Sebab, dalam perspektif pelanggan, layanan tidak berhenti ketika gas berhasil dialirkan. Layanan baru benar-benar memiliki arti ketika pelanggan merasakan bahwa energi tersebut membuat pekerjaan mereka menjadi lebih mudah.

Bagi SPPG, artinya sangat sederhana, dapur dapat terus bekerja, mengepulkan uap dari panci-panci besar, dan menghadirkan makanan bergizi bagi anak-anak Indonesia.

Kisah Pangkalan Kerinci menunjukkan sebuah gambaran menarik. Energi sering dibicarakan dalam bahasa yang besar: ketahanan energi, kedaulatan, swasembada, produksi nasional, dan pembangunan infrastruktur.

Namun, pada akhirnya, makna dari semua itu dapat terlihat dalam sesuatu yang sangat sederhana: api kompor.

Di dapur SPPG Pangkalan Kerinci, konsep besar tentang kemandirian energi menemukan bentuk konkretnya. Gas bumi yang berasal dari sumber daya domestik dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi pelanggan di dalam negeri. Energi tersebut kemudian mendukung proses penyediaan makanan dalam Program MBG.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya swasembada energi agar Indonesia tidak bergantung pada pihak luar. Pada saat yang sama, pemerintah menempatkan MBG sebagai salah satu instrumen untuk membangun generasi yang sehat dan berkualitas.

Dua agenda itu bertemu di sebuah dapur di Pangkalan Kerinci. Bukan dalam bentuk pidato, bukan pula dalam angka-angka besar, tetapi dalam bentuk tujuh tungku yang menyala.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan gas bumi Pelalawan menuju dapur MBG. Gas itu tidak berhenti sebagai energi. Gas berubah menjadi panas yang digunakan untuk mengolah bahan makanan. Dari proses tersebut lahir makanan bergizi yang kemudian menjadi asupan bagi anak-anak Indonesia di Pelalawan.

Gizi yang mereka terima pada akhirnya menjadi bagian dari investasi bagi generasi masa depan.

Rantai tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu berlangsung dalam satu sektor. Energi gas bumi berhubungan dengan pangan. Pangan berhubungan dengan kesehatan. Kesehatan berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia. Dan kualitas sumber daya manusia menentukan masa depan bangsa.

Karena itu, kisah gas bumi di SPPG Pangkalan Kerinci sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang bahan bakar untuk memasak. Ini adalah cerita tentang bagaimana sumber daya alam yang berada di bawah tanah dapat memberikan manfaat bagi pembangunan SDM Indonesia yang unggul.

Di sisi lain, kisah ini juga menunjukkan bagaimana energi lokal dapat menjadi bagian dari agenda nasional dan bagaimana perusahaan energi dapat mengambil peran melalui sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak berantai.

Dari perut bumi Pelalawan, gas mengalir, menyalakan api, menghidupkan dapur, dan menyiapkan makanan. Pada proses akhirnya, makanan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi Indonesia yang sehat dan kuat.

Energi tidak hanya dinilai dari seberapa banyak yang dapat dialirkan, tetapi juga dari seberapa besar kehidupan yang dapat digerakkannya.

Dari perut bumi Pelalawan, untuk dapur MBG. Dari energi lokal, untuk generasi masa depan Indonesia.(Azw)

Exit mobile version