Kisah Perempuan Tangguh Penjaga Iklim di Air Jamban: Saat Lahan Gersang Berubah Menjadi Ladang Cuan

Anggota Dasawisma 23 Mutiara melaksanakan panen perdana sayuran di Greenhouse Kelurahan Air Jamban, Mandau, didampingi Lurah Rifky Ellyaningsih dan Ketua PKK Dian Afri Jayanti. Fasilitas ini merupakan bantuan dari PHR guna mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi warga.

Duri (BM) – Bagi Dian Afri Jayanti, tanah yang menempel di kuku dan peluh yang menetes di bawah terik matahari bukanlah sesuatu yang ia keluhkan. Sebagai Ketua PKK Kelurahan Air Jamban, ia memilih berada di lapangan menyusuri bedengan sawi, memeriksa daun yang mulai menguning, dan memastikan tanaman tetap hidup meski cuaca tak selalu bersahabat.

Dian bukan sekadar ketua kelompok, Ia adalah nakhoda bagi 24 perempuan tangguh di program Puteri Proklim Melayu Lestari. Namun, sebelum hamparan hijau menghiasi pekarangan warga seperti hari ini, Air Jamban punya cerita lain, sebuah cerita tentang kegersangan dan kecemasan.

Beberapa tahun silam, musim kemarau selalu membawa rasa khawatir. Tanah mengeras seperti batu, air sulit didapat, dan tanaman yang dicoba ibu-ibu untuk ditanam sayuran seperti bayam, kangkung, atau timun lebih sering mati sebelum sempat dipanen.

“Dulu kita coba tanam sayur untuk kebutuhan dapur, tapi selalu gagal. Tenaga habis, hasilnya tak ada,” kenang Dian.

Keterbatasan pengetahuan soal pengelolaan air, pemilihan bibit, hingga pola tanam ditambah tantangan perubahan iklim membuat banyak pekarangan hanya menjadi lahan kosong yang berdebu. Bagi para ibu, kegagalan itu tak hanya soal sayur yang tidak tumbuh, tetapi juga rasa minder yang ikut tumbuh dalam diam.

Harapan baru muncul ketika PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) hadir lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Alih-alih sekadar memberi bantuan, PHR membangun sebuah ekosistem keberlanjutan. Satu unit greenhouse berkapasitas 1.000 lubang tanam didirikan. Sumur bor dan pompa air disiapkan untuk memastikan tanaman tak lagi merana kehausan. Bagi Dian dan kelompoknya, fasilitas itu seperti lembar baru dan mereka ingin menulis sesuatu yang berbeda di atasnya.

Para ibu ini kembali “sekolah”. Mereka belajar teknik mengolah tanah, memahami karakter tanaman, mempelajari manajemen air, hingga cara merawat greenhouse dengan disiplin. Kebiasaan lama seperti menyiram ala kadarnya mulai ditinggalkan. Dian ingat betul momentum ketika beberapa tanaman kembali gagal di awal. Namun, alih-alih menyerah, ia menyemangati kelompoknya “Keberhasilan itu bukan soal cepat atau lambat, tapi konsistensi. Pelan-pelan asal jalan.” ucap Dian bersemangat. Benar saja, perlahan hasilnya mulai terasa.

Para anggota PKK mulai menerapkan sistem rotasi tanam, sehingga panen tidak menumpuk di satu waktu. Dengan cara ini, mereka bisa memanen satu hingga tiga kali setiap minggu. Jenis tanaman yang dibudidayakan pun beragam: bayam hijau, bayam merah, kangkung, timun, dan terong masing-masing ditanam sesuai karakter, apakah lebih cocok di greenhouse atau tanah pekarangan. Berkat pengelolaan yang lebih terencana, tanaman tumbuh lebih sehat dan hasilnya lebih konsisten.

Perubahan di Air Jamban bukan hanya tampak dari hijaunya tanaman, tetapi juga dari meningkatnya ketahanan ekonomi keluarga. Setiap anggota kelompok kini menghemat 10–20 persen belanja sayur bulanan. Sementara itu, penjualan hasil panen menyumbang kas kelompok hingga jutaan rupiah tiap bulan, dan beberapa anggota merasakan tambahan penghasilan langsung dari kebun mereka sendiri. Kebun ini bukan lagi sekadar ruang hijau namun telah bertransformasi menjadi sumber optimisme.

“Sekarang kebun ini bukan cuma untuk makan sendiri, tapi juga bisa menambah penghasilan. Tanaman herbalnya juga jadi obat alami keluarga. Rasanya usaha kami betul-betul berarti,” ujar Dian dengan mata berbinar.

Efek domino mulai tampak. Sebanyak 25 anggota kelompok yang terlibat langsung telah menginspirasi 10 warga lainnya untuk ikut menanam. Pekarangan yang dulunya gersang kini menjadi ruang belajar bersama tempat warga saling berbagi ilmu dan hasil panen.

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa program ini adalah contoh nyata pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. “PHR sangat mengapresiasi semangat warga yang telah beranjak dari sekadar penerima manfaat menjadi agen perubahan lingkungan. Keberhasilan program ini bukan hanya terlihat dari hijaunya greenhouse, melainkan dari transformasi perilaku masyarakat yang terus berkembang. Inilah dampak dari tanggung jawab sosial dan lingkungan, yakni membangun kapasitas manusia agar mampu menjaga ketahanan pangan dan lingkungan secara mandiri,” jelasnya.

Ke depan, Air Jamban diarahkan menjadi Kampung Proklim percontohan, dengan rencana diversifikasi tanaman buah serta memperkuat jejaring pasar lokal. Harapan yang dulu semu, kini telah tumbuh, dirawat, dan dipupuk oleh tangan-tangan perempuan tangguh Kelurahan Air Jamban.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

null