Bukan Sekadar Naluri: Intuisi Ilmiah sebagai Fondasi Keputusan Bisnis Modern

Charly Simanullang Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau

Dalam menghadapi disrupsi dan kompleksitas bisnis modern, keputusan tidak lagi cukup berbasis intuisi. Scientific content yang sederhana, empiris, kontekstual, dan selaras dengan norma menjadi fondasi pengambilan keputusan yang rasional, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus sumber keunggulan kompetitif di era ekonomi berbasis pengetahuan.

Ditengah fase evolusi industry saat ini, dunia bisnis menghadapi tuntutan paradoksal yaitu turbulensi ekonomi global, disrupsi teknologi digital, dan tekanan regulasi yang semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, intuisi manajerial, pengalaman masa lalu, dan praktik meniru kompetitor tidak lagi memadai. Atas fenomena ini scientific content hadir sebagai pengetahuan yang disusun secara sistematis, berbasis teori, bukti empiris, serta konteks normative, namun tetap sederhana, aplikatif, dan efisien. Atas hal ini relevansi pemetaan perkembangan teori dan telaah pustaka strategis menjadi semakin nyata, sebagai fondasi rasional pengambilan keputusan bisnis modern.

Dalam tradisi keilmuan, telaah pustaka berfungsi untuk menelusuri evolusi teori dari akar konseptualnya hingga bentuk-bentuk kontemporer yang telah diuji secara empiris. Proses ini memungkinkan peneliti memahami bagaimana suatu teori berkembang, dikritisi, disempurnakan, atau bahkan ditinggalkan. Jika pendekatan ini diadopsi secara serius oleh dunia bisnis dan manajemen, maka organisasi tidak hanya mengetahui strategi apa yang berhasil, tetapi juga memahami mengapa strategi tersebut efektif dalam konteks tertentu dan gagal di konteks lain. Dengan demikian, teori tidak lagi dipandang sebagai abstraksi, tetapi sebagai arah konseptual yang membantu membaca pola besar, hubungan kausal, dan batas rasionalitas suatu keputusan.

Perkembangan penelitian empiris yang menguji teori-teori tersebut mencerminkan dinamika pasar yang sesungguhnya. Temuan yang konsisten lintas studi menunjukkan stabilitas perilaku atau mekanisme tertentu, sementara hasil yang beragam justru menegaskan bahwa konteks baik institusional, budaya, maupun regulative yang memainkan peran penting. Scientific content dalam pengertian ini berfungsi sebagai alat pembelajaran strategis, bukan sekadar legitimasi akademik atas keputusan yang telah diambil sebelumnya.

Namun, teori dan hasil penelitian tidak pernah berdiri sendiri. Strategi bisnis dan kebijakan manajerial selalu beroperasi dalam kerangka norma finalitas yang mencakup undang-undang, peraturan pemerintah, SOP organisasi, serta kearifan lokal yang hidup dalam praktik sehari-hari. Banyak kegagalan implementasi strategi bukan disebabkan oleh kelemahan model teoretis, melainkan oleh ketidakselarasan dengan konteks normatif dan empiris. Oleh karena itu, scientific content yang matang harus mampu mengintegrasikan jurnal ilmiah dengan regulasi formal, praktik operasional, penilaian pakar, dan pembacaan kritis terhadap kondisi lokal. Integrasi inilah yang menjadikan pengetahuan ilmiah tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga layak dan berkelanjutan secara praktis.

Dalam kerangka pengembangan ilmu dan praktik manajemen, kebaruan atau novelty sering disalahartikan sebagai kompleksitas. Padahal, novelty yang bermakna justru lahir dari kemampuan menambahkan elemen baru yang relevan yaitu dengan menguji teori lama pada konteks industri yang berbeda, menggabungkan perspektif lintas disiplin, atau menyederhanakan model agar lebih mudah dioperasionalkan. Kebaruan semacam ini tidak selalu menciptakan teori baru, tetapi memberikan kontribusi nyata bagi pemahaman dan pemecahan masalah kontemporer. Di sinilah scientific content berperan sebagai jembatan antara pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia usaha.

Prinsip parsimony menjadi titik temu paling rasional antara sains dan logika bisnis. Model dan kerangka analisis yang parsimonious yang sederhana, hemat sumber daya, dan mudah diuji akan lebih selaras dengan realitas organisasi yang dituntut bergerak cepat di tengah keterbatasan waktu dan biaya. Kesederhanaan dalam hal ini bukan reduksi makna, melainkan efisiensi konseptual yang tetap menjaga kekuatan penjelasan. Scientific content yang parsimonious memungkinkan organisasi melakukan pengujian strategi secara cepat, melakukan penyesuaian berbasis data, serta membangun budaya pengambilan keputusan yang rasional dan adaptif.

Keunggulan kompetitif di era ekonomi berbasis pengetahuan ditentukan oleh siapa yang paling mampu mengelola pengetahuan secara ilmiah dan kontekstual. Pemetaan perkembangan teori, pembacaan kritis terhadap riset empiris, integrasi norma dan realitas lokal, pencarian novelty yang relevan, serta penerapan prinsip parsimony merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika scientific content diposisikan sebagai aset strategis, bukan sekadar produk akademik, maka ilmu pengetahuan tidak berhenti dirumah jurnal dan ruang kuliah, tetapi menjadi sumber daya nyata bagi ketahanan dan keberlanjutan bisnis modern.***

Penulis | Charly Simanullang
Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

null