Pekanbaru (BM) – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berkomitmen dan terus berupaya mendorong peningkatan kualitas jurnalisme visual di wilayah operasionalnya dengan menggelar workshop fotografi bagi 31 pewarta foto dari wilayah kerja Zona Rokan, Zona 1, dan Zona 4, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Premier Pekanbaru tersebut menghadirkan fotografer jurnalistik senior, Arbain Rambai, yang juga kerap dinobatkan sebagai dewan juri dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina setiap tahunnya.

Sr Officer Media Relations Zona Rokan, Victorio Chatra Primantara, mengatakan peserta workshop merupakan wartawan terpilih yang telah melalui proses seleksi karya foto secara internal. Dari sejumlah karya yang masuk, sebanyak 31 peserta dari Sumatera Selatan, Riau dan Sumatera Utara dinilai layak dan terpilih untuk mengikuti pelatihan.
“Workshop ini merupakan bentuk komitmen kami untuk mendorong peningkatan kapasitas pewarta foto, baik dari sisi teknik pengambilan gambar maupun kepekaan dalam menentukan objek yang memiliki nilai jurnalistik,” ujar Victorio.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas karya visual diharapkan dapat mendorong partisipasi jurnalis daerah dalam ajang Anugerah Jurnalistik Pertamina di masa mendatang.
Sebagai bagian dari praktik lapangan, peserta juga mengunjungi Bank Sampah Al Ibnu Mubarok di Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai Barat, Pekanbaru. Lokasi tersebut menjadi contoh program pemberdayaan masyarakat yang didukung melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHR.
Di lokasi ini, kelompok masyarakat mengolah sampah organik menjadi maggot bernilai ekonomi. Selain itu, mereka juga memproduksi kompos, pupuk cair, hingga kerajinan berbahan limbah.
Ketua kelompok usaha, Rinwiningsih, menyebut produksi maggot dapat mencapai 100 hingga 150 kilogram per hari, dengan total pengolahan sampah sekitar 4 hingga 5 ton per bulan.
Dari usaha tersebut, kelompoknya mencatat pendapatan sekitar Rp540 juta pada 2024. Sementara pada 2026, sejak Januari hingga saat ini, pendapatan telah mencapai sekitar Rp200 juta.
“Selain mengolah sampah, kami juga membuat produk kerajinan dan melibatkan 15 pekerja, termasuk penyandang disabilitas,” ujarnya.
Meski dijalankan secara mandiri, dengan dukungan dan pembinaan dari PHR, ia optimistis usaha ini akan terus berkembang dan semakin baik di masa mendatang.
Ia berharap ke depan ada kolaborasi dan perhatian yang lebih luas, baik dari Pemerintah Kota Pekanbaru maupun Pemerintah Provinsi Riau, terutama dalam edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat. (azw)
Langsung ke konten












