Siak (BM) – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus berkomitmen memperkuat strategi optimalisasi aset migas matang (mature field) melalui penerapan teknologi pengangkatan tingkat lanjut (tertiary recovery), yakni Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) di Lapangan Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Melalui teknologi ini, PHR menargetkan tambahan recovery factor atau tingkat perolehan minyak sebesar 12 hingga 16 persen guna memposisikan lapangan Minas sebagai pendukung ketahanan energi nasional.
Lapangan Minas yang ditemukan pada 1943 dan diresmikan pada 1944 ini merupakan salah satu tonggak sejarah industri hulu migas di Indonesia yang telah menopang produksi nasional selama puluhan tahun. Seiring bertambahnya usia lapangan, tekanan alami reservoir dan produksi sumur mengalami penurunan. Untuk mengangkat cadangan minyak yang masih terjebak di dalam pori-pori batuan, PHR mengimplementasikan teknologi Chemical EOR yang dirancang secara cermat melalui serangkaian riset laboratorium hingga pemantauan digital berbasis kontrol otomatis.
Senior Engineer Reservoir PT PHR, Zulhendra, menjelaskan bahwa penerapan di Area A Lapangan Minas merupakan tahapan lanjutan dari uji coba sebelumnya. Rencana pengembangan (Plan of Development / POD) proyek ini telah memperoleh persetujuan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada 2023, dengan persiapan investasi pada 2024, dan eksekusi injeksi yang dimulai secara bertahap sejak Desember 2025.
Proses perumusan teknologi ini melewati proses kajian dan penelitian yang cukup panjang di Technology Support Laboratory PHR. Analis Laboratorium EOR, M. Hatta Nasution, mengungkapkan bahwa timnya melakukan lebih dari 200 kali percobaan dengan sekitar 70 variasi kombinasi formula sejak 2022 hingga akhirnya membuahkan hasil pada Juli 2024.
Formulasi yang digunakan memadukan tiga komponen utama, yakni alkali, surfaktan, dan polimer (ASP). Surfaktan berfungsi menurunkan tegangan antarmuka agar minyak yang melekat pada batuan mudah bergerak, sementara polimer menjaga viskositas fluida agar penyapuan minyak lebih efektif.
“Kami menguji berbagai fase perilaku (phase behavior) hingga terbentuk type 3 yang memiliki batas minyak, mikroemulsi, dan air yang jelas. Formula khusus yang diberi nama kode PR24 ini bahkan telah didaftarkan hak patennya sebagai karya anak bangsa,” ujar Hatta.
Meski menggunakan formula rakitan lokal, Hatta menambahkan bahwa sebagian besar komponen bahan kimia inti masih harus didatangkan melalui impor, sementara bahan penunjang seperti soda abu (soda ash) dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Dalam aplikasinya di lapangan, injeksi fluida kimia dilakukan secara cermat dan terukur pada pola tertentu. Senior Supervisor DCS Control Room PHR, Warih Kurniawan, menjelaskan bahwa seluruh proses distribusi dan pemantauan fasilitas di lapangan dikendalikan secara terpusat melalui ruang kontrol digital (Control Room) yang beroperasi penuh 24 jam dengan sistem otomatisasi.
“Operasional harian dikawal oleh operator di ruang kontrol serta tim teknis di lapangan yang mengawasi ketat jalannya pemompaan. Saat ini, laju injeksi fluida kimia mencapai rata-rata sekitar 13.500 barel per hari, yang mencakup campuran bahan kimia dan air sesuai spesifikasi desain reservoir,” terang Warih.
Penerapan Chemical EOR di Lapangan Minas melibatkan pengelolaan sumur terpadu yang mencakup sumur produksi, sumur injeksi, serta sumur pembuangan (disposal well) untuk memastikan standar keselamatan dan kepatuhan terhadap aspek lingkungan tetap terjaga.
Keberhasilan proyek di Area A Lapangan Minas ini diharapkan menjadi mercusuar dan model percontohan bagi, dalam pengembangan lapangan minyak matang lainnya di wilayah kerja PHR maupun di Indonesia, guna memaksimalkan potensi cadangan migas yang tersisa demi masa depan energi nasional.(Azw)
Langsung ke konten












