EkBis  

Kepercayaan Sebagai Penggerak Teknologi, Transisi Energi dan Masa Depan Perekonomian

Charly Simanullang Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau
Charly Simanullang Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau

Di era transformasi teknologi dan energi, kepercayaan publik merupakan faktor kunci yang menentukan apakah suatu inovasi akan diterima, digunakan, dan berhasil mencapai tujuan yang diharapkan.

Di tengah perlombaan investasi teknologi, transformasi digital, dan transisi energi yang berlangsung di berbagai negara, terdapat satu fakta yang sering luput dari perhatian para pengambil kebijakan maupun pelaku bisnis, yaitu tidak semua inovasi yang secara teknis unggul akan diterima oleh Masyarakat, tidak semua infrastruktur yang telah dibangun akan dimanfaatkan secara optimal dan tidak semua teknologi yang canggih mampu menciptakan loyalitas pelanggan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan utama pembangunan ekonomi modern tidak lagi semata-mata berkaitan dengan persoalan teknologi, modal, atau infrastruktur, melainkan berkaitan dengan bagaimana membangun kepercayaan publik. Dalam teori pembangunan konvensional, keberhasilan suatu program umumnya diukur melalui indikator fisik dan finansial. Semakin besar investasi, semakin luas infrastruktur yang dibangun, dan semakin tinggi tingkat adopsi teknologi, maka program tersebut dianggap berhasil. Namun dinamika pasar saat ini menunjukkan bahwa ukuran tersebut semakin tidak memadai untuk menjelaskan perilaku masyarakat yang semakin kompleks.

Kasus transisi energi menjadi contoh yang sangat relevan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan pelaku industri telah berupaya memperluas akses energi yang lebih efisien dan berkelanjutan melalui pembangunan berbagai infrastruktur energi bersih. Secara teknis, manfaat yang ditawarkan relatif jelas yaitu biaya yang lebih efisien, pasokan yang lebih stabil, serta kontribusi terhadap pengurangan emisi dan penguatan ketahanan energi nasional.

Akan tetapi, keberhasilan program energi tidak otomatis mengikuti keberhasilan pembangunan infrastrukturnya. Banyak masyarakat yang secara konseptual mendukung penggunaan energi yang lebih modern dan ramah lingkungan, tetapi belum sepenuhnya mengubah perilaku konsumsi mereka. Dalam perspektif perilaku konsumen, kondisi ini dikenal sebagai attitude-behavior gap, yaitu kesenjangan antara sikap positif dan tindakan nyata. Kesenjangan tersebut mengindikasikan bahwa keputusan konsumen tidak pernah sepenuhnya rasional sebagaimana diasumsikan dalam teori ekonomi klasik. Individu tidak hanya mempertimbangkan aspek harga dan manfaat fungsional, tetapi juga persepsi risiko, pengalaman masa lalu, tingkat pemahaman, pengaruh lingkungan sosial, hingga rasa percaya terhadap institusi yang menawarkan produk atau layanan tersebut. Kepercayaan muncul sebagai variabel strategis yang semakin menentukan keberhasilan sebuah transformasi.***

Penulis | Charly Simanullang
Mahasiswa Program Doktor Ekonomi dan Management Bisnis Universitas Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

null